48

Pagi ini cerah atau bahkan bisa dibilang kelewat cerah. Juna yakin siang nanti matahari Depok akan terasa jauh lebih panas dari biasanya.

Orang-orang di sekelilingnya tampak sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Pedagang makanan yang sedang melayani pelanggan, mahasiswa yang sedang buru-buru berjalan menuju gerbang fakultas, juga beberapa kendaraan yang melintas membelah keramaian.

Juna sedikit meregangkan badannya usai melakukan skipping dan push up di halaman indekos yang telah sepi oleh kendaraan yang biasanya terparkir. Hari ini, ia memilih untuk melakukan olahraga di sini, nggak seperti hari-hari biasa di mana ia biasanya keluar untuk berlari.

Namun, seperti hari-hari lainnya, hari ini pun Juna harus kembali mencari sarapan sendirian lantaran kedua temannya enggan ikut keluar menemaninya.

Nggak ada pilihan lain yang tepat bagi Juna pagi ini selain warkop tempat ia biasa menyantap nasi telur sebagai sarapan pagi. Lantas, langsung saja Juna bergegas setelah membersihkan dirinya yang bermandikan keringat usai berolahraga.

Baru saja Juna memasuki ruangan warkop yang sebetulnya nggak terlalu luas itu, dirinya sudah dibuat sedikit terlonjak. Ia nggak menyangka kalau hari ini juga, untuk yang keempat kalinya di minggu ini, ia kembali nggak disengaja bertemu dengan Aska.

“Lah, Juna, Ska.”

Saking fokusnya Juna terhadap Aska, ia bahkan nggak menyadari kehadiran temannya, Riga, di samping Aska.

“Juna? Sini, sini, kosong, nih, bangkunya.”

Aska yang akhirnya sadar akan kedatangan Juna, menepuk bangku kayu kosong yang tepat berada di serong posisi duduknya sekarang. Juna pun tersenyum, menempati bangku yang ditunjuk oleh Aska.

“Sarapan di sini lagi?”

“Iya, di sini doang yang nasi telornya enak.”

Aska terkekeh pelan mendengar jawaban Juna yang kelewat jujur. “Setuju, sih, gue.”

Atau mungkin tempat ini memang mengingatkan Juna akan pertemuannya dengan Aska untuk yang kedua kalinya? Yang juga tanpa disengaja.

“Lu mau nasi telor juga, Jun?”

“Eh, iya.”

“Ya udah.” Aska melambaikan tangannya pada sang penjual yang sedang sibuk mengaduk gelas berisikan kopi hangat. “A’, nasi telornya nambah satu. Jadi tiga, ya.”

“Oke, siap.” Penjual warkop tersebut mengacungkan satu jempolnya.

“Wah, dipesenin. Thanks banget, Aska.”

“Oke, santai.”

Di sampingnya, Riga diam-diam cekikikan melihat interaksi temannya dengan sosok laki-laki yang terus menerus bertubrukan dengan satu sama lain di minggu ini.

“Kenapa lu? Ketawa-ketawa aja.”

“Gapapa, lu berdua lucu.”

Aska tersentak, mengerutkan dahinya keheranan. “Lucu apanya?”

“Nggak, nggak.”

“BTW....” Juna kembali memulai percakapan, membuat dua sejoli yang sedang bercakap itu menoleh ke arahnya. “Kita beneran ketemu mulu, ya, akhir-akhir ini? Cuma Kamis kemaren aja kita nggak ketemu.”

“Ketemu, kok.”

Bingung, Juna memiringkan kepalanya sambil kedua alisnya turut bertaut. “Hah, masa iya?”

“Lu....” Aska menjeda kata-katanya. “Bukannya kemaren mampir di notification Instagram gue?”

“Maksudnya?”

“Iya, bener, kok, lu mampir. Lu nge-like post-an gue yang guenya jongkok. Iya nggak, sih?”

Kaget, Juna membelalakan kedua kelopak matanya lebar-lebar. Langsung merogoh kantong celana untuk mengambil ponselnya dari dalam sana.

Benar saja, ternyata sewaktu Juna memberi lihat potret Aska kepada sang kakak, dia nggak sengaja menyentuh ikon yang berbentuk hati. Membuat sebuah notifikasi pada akun Instagram Aska muncul, tanda bahwa seseorang baru saja menyukai unggahannya.

“Lu nge-stalk gue apa gimana, Jun?”

Spontan, Aska dan Riga keduanya terkekeh pelan. Reaksi Juna terlihat seperti anak kecil yang sedang tertangkap basah mencuri permen di warung.

“Yah... ketauan, deh, gue.” Juna mengusap tengkuknya kikuk. Membuat Aska serta Riga kembali terkekeh pelan.

“Juna... Juna.” Riga menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ini gue kasih tau, ya. Kalo mau nge-stalk orang di Instagram pake tangan kanan biar ngga ke-like, nah kalo di Twitter, baru lu pakenya tangan kiri. Ke-like ‘kan, tuh, posting-an orang.”

“Hahahah.” Aska mengeluarkan sisa tawanya, kemudian menepuk lengan Juna perlahan. “Bercanda, Jun. Nggak usah malu-malu amat. Udah, lupain aja. Gue juga pernah, kok, nggak sengaja nge-like post-an orang.”

“Errr... iya... hehehe, aduh sorry, ya, Aska.”

Nggak bisa menahan rasa malunya, kini nada bicara Juna jadi ikut gelagapan. Berharap lantai dasar warung dapat tiba-tiba terbelah dan menelannya hidup-hidup. Atau boleh juga dengan sebuah capit dapat menariknya tubuhnya dari atas bak mesin mainan pada area bermain. Ia bisa menerima cara apa saja, asalkan kini ia nggak lagi diharuskan untuk bertatap muka dengan seorang Askara Mahavira.

“Lah, tenang aja, Jun. Nggak perlu minta maaf juga.”

Juna tersenyum canggung, memanglingkan pandangannya ke luar jendela. Berusaha menghindari tatapan Aska san Riga yang hanya akan membuatnya semakin malu.

Ah, tuh ‘kan. Tau gitu kemaren gue nggak usah nunjukkin foto Aska ke teteh. Jadi ketauan begini ‘kan sekarang.

Hati Juna bergumam, namun tiba-tiba kepalanya bergeleng.

Tapi, nggak, sih. Ini emang guenya aja yang ceroboh. Ah elah... mau ditaro di mana muka gue?

“Suka, sih, suka. Tapi, jangan yang sampe kebaca banget dong, Jun. Hahahah.” Riga meledek Juna lagi, seperti belum puas dengan yang tadi. ”Play it lowkey, Jun. Udah lama nggak ngegebet orang, ya, lu?”

“Riga....” Aska menatap Riga tajam, seperti menyuruhnya untuk menghentikan sindirannya pada Juna.

“Eh, bercanda, Jun.”